Laskar89 adalah istilah yang mendapatkan daya tarik dalam subkultur online Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun apa sebenarnya Laskar89 itu, dan mengapa hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan netizen dan pihak berwenang?

Laskar89 mengacu pada sekelompok individu yang dikenal dengan ideologi ekstrem dan perilaku agresif online. Mereka sering dikaitkan dengan penyebaran ujaran kebencian, misinformasi, dan hasutan kekerasan terhadap kelompok tertentu, khususnya kelompok agama dan politik minoritas.

Asal usul Laskar89 dapat ditelusuri kembali ke pemilihan presiden tahun 2014 di Indonesia, ketika para pendukung kandidat yang kalah, Prabowo Subianto, membentuk pasukan online untuk menyebarkan propaganda dan mendiskreditkan presiden baru terpilih, Joko Widodo. Kelompok ini akhirnya berkembang menjadi apa yang sekarang dikenal dengan nama Laskar89, yang diberi nama sesuai tahun pemilu.

Anggota Laskar89 sering kali aktif di platform media sosial, khususnya Twitter dan Facebook, di mana mereka menggunakan akun palsu dan hashtag untuk memperkuat pesan mereka. Mereka diketahui menargetkan jurnalis, aktivis, dan tokoh masyarakat yang menentang ideologi mereka, sehingga mengarah pada pelecehan online dan bahkan ancaman kekerasan fisik.

Sisi gelap Laskar89 juga merambah ke dunia nyata, dengan adanya laporan penyerangan fisik dan intimidasi terhadap pihak-pihak yang menentang pandangan mereka. Pada tahun 2017, seorang jurnalis terkemuka dan aktivis hak asasi manusia, Ratna Sarumpaet, diserang oleh sekelompok orang yang diyakini berafiliasi dengan Laskar89.

Meskipun ada upaya pemerintah Indonesia untuk menindak ujaran kebencian dan ekstremisme online, Laskar89 terus berkembang di balik bayang-bayang internet. Pengaruh mereka bahkan meluas ke media arus utama, di mana mereka mampu memanipulasi narasi dan membentuk opini publik mengenai isu-isu tertentu.

Munculnya Laskar89 menjadi sebuah kisah peringatan tentang bahaya radikalisasi online dan kekuatan media sosial untuk menyebarkan ideologi berbahaya. Hal ini juga menyoroti perlunya kesadaran dan kewaspadaan yang lebih besar di kalangan netizen untuk memerangi ujaran kebencian dan ekstremisme di era digital.

Kesimpulannya, Laskar89 mewakili sisi gelap subkultur online di Indonesia, di mana ekstremisme dan ujaran kebencian dibiarkan tumbuh subur tanpa terkendali. Terserah kita semua untuk melawan ideologi beracun tersebut dan berupaya menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan toleran baik secara online maupun offline.

Tags: